[Jundi-Qiyadah] Keikhlasan Khalid & Kematangan Khalifah Abu Bakar


Oleh Ust. Abrar Rifai

Di tengah peperangan yang sedang berkecamuk, saat Khalid Bin Walid ra sedang memimpin pasukannya dengan gagah berani, cerdas, cekatan dan penuh dengan strategi yang dipastikan bisa memukul mundur pasukan musuh, tetiba Khalid menerima surat dari Khalifah Umar bin Khaththab ra yang berisi penggantian dirinya sebagai panglima!

Khalid dikenal luas sebagai panglima perang yang tangguh, tangkas dan penuh strategi jitu. Kemampuannya berperang di atas kemampuan manusia pada umumnya. Baik setelah Khalid masuk Islam atau ketika ia masih kafir. Maka sejak Khalid menyatakan keislamannya, Rasulullah saw sangat gembira. Rasulullah berdoa khusus untuk Khalid dan memberikan julukan kepadanya, Saifullah Almaslul = Pedang Allah yang terhunus. Tak heran, pada setiap peperangan yang dipimpin Khalid, kemenangan gemilang selalu diraih.

Namun kecemerlangan Khalid yang demikian itu, tak cukup menjadi alasan bagi Khalifah Umar untuk mempertahankannya sebagai panglima. Dalam surat yang beliau kirim kepada Khalid, disitu disebutkan bahwa Khalid digantikan Abu Ubaidah Bin Jarrah ra. Khalid sam’an wa tha’atan menerima kepetusan tersebut. Ia pun menyerahkan jabatannya kepada Abu Ubaidah dengan tulus.

Kisah ketulusan Khalid bin Walid di atas sering menjadi pembenar agar seorang jundi tunduk tanpa reserve pada keputusan qiyadah. Tak ada yang salah. Itu adalah satu di antara kenyataan sejarah gerakan Islam dan etika dalam kehidupan berjamaah. Namun, jauh sebelum cerita Khalid tersebut terjadi, ada kisah lain yang juga tidak boleh kita abaikan sebagai kenyataan sejarah Islam dan etika kehidupan berjamaah. Sila cermati!

Usamah bin Zaid bersama pasukannya belum jauh meninggalkan Juraf, ketika ia mendengar kewafatan Rasulullah Muhammad saw di Madinah. Usamah segera menghentikan pasukannya dan kembali ke Madinah. Ia bergabung dengan kerumunan kaum muslimin yang lain, yang sedang bersedih akan kepergian Rasulullah. Telah jamak diketahui bahwa Usamah begitu dicintai Rasulullah, sebagaimana Usamah pun sangat mencintai Rasulullah.

Nah, ketika Abu Bakar Ash Shiddiq ra diangkat menjadi khalifah menggantikan Rasulullah, beliau didesak oleh sejumlah sahabat yang lain untuk mengganti Usamah. Dengan pertimbangan bahwa masih banyak sahabat-sahabat lain yang lebih layak dan mumpuni dari Usamah, yang ketika memang masih belia. Namun Abu Bakar menolak! Abu Bakar tidak mau mengganti ketetapan strategis yang telah diputuskan pemimpin sebelumnya, walau sebagai pemimpin yang sah beliau memiliki kewenangan untuk itu.

Maka, kalau memang jundi harus meniru ketulusan dan kebesaran jiwa Khalid, tak bisakah juga qiyadah meniru kedewasaan dan kematangan Abu Bakar?***