Irwan Prayitno; Tanpa Teks Pidato, Biasa Tampil di Pentas Dunia


TANPA TEKS PIDATO, BIASA TAMPIL DI PENTAS DUNIA

Melakoni aktivitas begitu padat semasa menjadi gubernur Sumbar, bisa jadi Irwan Prayitno bakal keteteran, terutama dalam membuat pidato di setiap kegiatan. Selain pidatonya bisa monoton dan tanpa gereget, juga membuat Irwan akan kehabisan kreativitas dan inovasi dalam setiap pidatonya.

Namun, ternyata Irwan tidaklah seperti itu. Setiap pidatonya yang dikemukakannya, bernas, mengandung pesan yang kuat, dan penuh kebaruan. Amat jarang setiap Irwan berpidato, memancing kebosanan bagi orang yang mendengarnya. Seakan bapak 10 anaknya ini bisa membaca psikologis pendengarnya.

Setidaknya diakui Kadis Prasarana Jalan dan Tata Permukiman (Prasjal Tarkim) Sumbar Suprapto. Pria yang kerap mendampingi Irwan sejak lima tahun belakangan ini, terkadang dibuat terheran-heran mendengar pidato yang disampaikan mantan pimpinannya tersebut dalam berbagai kesempatan.

“Beliau bahkan mengerti sampai kepada hal-hal teknis dalam suatu proyek. Padahal, kita mengetahui bahwa beliau bukanlah berlatar berlakang ilmu keteknikan. Terkadang saya sering bertanya-tanya pula, darimana beliau bisa mengetahui semua itu,” sebut Suprapto.

Makanya, tambah Suprapto, ketika melakukan peninjauan terhadap suatu pekerjaan, dirinya pun harus menyiapkan data lebih lengkap terhadap pekerjaan itu. Sehingga ketika di lapangan, dia pun bisa menjelaskan pekerjaan itu secara lebih detail. “Kalau tidak, tentu saja saya bisa kerepotan pertanyaan beliau nantinya di lapangan,” akunya.

Padang Ekspres sudah berulang kali mengikuti kegiatan beliau, juga merasakan sendiri bagaimana seorang Irwan berpidato. Biarpun terdapat dua atau tiga kegiatan yang mengharuskannya membuka acara itu, ternyata isi pidatonya berbeda-beda. Tentu saja pesan-pesan yang disampaikannya mengena dan sesuai topic pembahasan di setiap pembahasan tersebut.

Menariknya, pidato Irwan mengalir begitu saja. Artinya, beliau tanpa dibekali dengan naskah pidato yang biasanya disiapkan staf seorang kepala daerah. “Kalau saya mengandalkan teks pidato dari staf, jelas saya akan kerepotan nantinya. Terlebih lagi, terdapat beberapa kegiatan yang hampir berdekatan dengan persoalan yang akan dibahas berbeda pula,” tutur Irwan dalam salah satu kesempatan.

Lalu bagaimana dia menyikapinya? Ternyata kepiawaiannya berpidato sudah berlangsung lama. Artinya, tidak berlangsung instan. Selain kegemarannya membaca sejak duduk di bangku sekolah dulu, Irwan termasuk pribadi yang selalu ingin mengetahui sesuatu hal.

Sewaktu dia menjadi Ketua Komisi VIII DPR RI selama lima tahun, dia pernah diundang sebagai narasumber soal pertambangan dan energi di berbagai pentas internasional. Tidak terhitung banyaknya. Hingga puluhan kali. Negara yang mengundangnya sebagai pembicara juga tidak tanggung-tanggung. Semuanya negara maju. Seperti, Amerika, Inggris, Jepang, Australia dan Jerman.

Dia pernah tampil sebagai narasumber pada kegiatan seminar Houston Energy Dialogue, Houston, tahun 2001 silam. Saat itu, Irwan tampil sebagai pembicara menyampaikan makalah berbahasa Inggris yang berjudul, Legislative Role of the Indonsian House of Representatives in Indonesia’s Legal Reform.

Irwan juga tampil sebagai pembicara, pada seminar yang berlangsung 4 Mei 2001 di Singapura. Saat itu, Irwan menyampaikan makalah berjudul Visions for Indonesian Future, Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Irwan Prayitno juga pernah menjadi utusan anggota delegasi Indonesia saat 117th OPEC Konference, Vienna Austria, 26 September 2001.

Selain Amerika Serikat dan Singapura, Irwan juga tampil sebagai pembicara pada seminar internasional di kota-kota besar negara maju lainnya, seperti Fukushima Jepang, New Zealand, Inggris dan Jerman.

Di hadapan pemerintah negara-negara maju dan investor Irwan bicara tentang pemanfaatan potensi energi panas bumi sebagai upaya kemandirian penyediaan energi. Terutama, melalui pembangkit listrik.

“Bila dia sudah ingin mengetahui sesuatu, biasanya dia langsung mempelajarinya secara otodidak, termasuk menanyakan kepada orang yang lebih mengerti terhadap persoalan tersebut. Bahkan, terkadang dia belajar sampai larut hanya untuk mengetahui hal tersebut,” sebut teman dekat Irwan, Yongki Salmeno. (*)

Harian Padang Ekspres, 21 Agustus 2015