Pilkada Jakarta, Pertaruhan PKS dan Sohibul Iman


Oleh: R Ferdian Andi R*

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kini benar-benar diuji dalam Pilkada DKI Jakarta ini. DKI Jakarta yang pernah menjadi basis partai Islam ini menjadi pertaruhan bagi PKS dan juga kepemimpinan Presiden PKS Sohibul Iman.

PKS yang selama ini dikenal liat dalam berpolitik dan sulit ditebak dalam manuvernya, namun dalam Pilkada DKI Jakarta kali ini menggambarkan hal yang lain. PKS justru berpolitik dengan cara tanpa "tedeng aling-aling".

Duet Sandiaga Uno-Mardani Ali Sera menjadi pembuktian nyata manuver PKS tersebut. Simak saja penjelasan Presiden PKS Sohibul Iman terkait polemik duet Sandi-Mardani ini yang direspons tidak bergairah oleh pasar politik DKI Jakarta.

Anggota Komisi X DPR RI ini menyebutkan munculnya nama Mardani lantaran ada garansi Ketua umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. "PKS telah mendapat jaminan dari Prabowo terkait pencalonan Mardani mendampingi Sandiaga sebagai bakal cawagub DKI," ujar Sohibul dalam siaran pers yang diterima, Rabu (14/9/2016).

Sohibul menambahkan saat ini pihaknya terus membangun komunikasi dengan sejumlah stakeholder partai politik yang tergabung dalam Koalisi Kekeluargaan. "Kami terus membangun komunikasi dengan semua partai, termasuk partai koalisi," tambah Kang Iman, demikian ia kerap disapa.

Sementara di tempat yang sama Bacawagub Mardani Ali Sera tidak menyoal berbagai komentar yang muncul pasca-deklarasi pasangan Sandi-Mardani. Kendati demikian, ia berharap koalisi kekeluargaan terus terajut mengingat tahapan pilkada DKI Jakarta tak lama lagi mulai berjalan. "PKS berharap koalisi kekeluargaan tetap jalan bersama," harap mantan anggota Komisi I DPR RI ini.

Mardani juga tak menyoal bila dalam kenyataannya parta koalisi kekeluargaan memiliki pasangan calonnya sendiri. Dia mengklaim hal tersebut justru positif bagi PKS. "Adanya Yusril Ihza Mahendra atau Saefullah justru malah bagus. Dengan demikian publik akan tahu, tinggal proses politiknya dinamis. Menunjukkan kami harus segera bekerja keras dan berkomunikasi," imbuh Mardani.

Langkah berani PKS yang mengusung Sandi-Mardani semestinya melalui kalkulasi politik yang matang dan terukur. Pengalaman Pilkada tahun 2012 lalu dengan mencalonkan Hidayat Nur Wahid yang memiliki ketokohan jauh di atas Sandiaga Uno atau Mardani Ali Sera hanya memperoleh 11 persen suara.

Semestinya, pengalaman Pilkada 2012 lalu menjadi pelajaran penting bagi PKS. Bagaimanapun, konstalasi politik lokal Jakarta berpengaruh dalam konstalasi politik nasional melalui Pemilu 2019, tiga tahun mendatang.

Jika PKS tidak hati-hati dan mawas diri, bukan tidak mungkin Pemilu 2019 mendatang menjadi senjakala partai ini. Apalagi, hingga kini, di bawah kepemimpinan Sohibul Iman belum ada gebrakan yang konkret ke publik.*

*Sumber: INILAH.COM