Beberapa Pertanyaan yang Tidak Bisa Dijawab Doktor Syiah dari Iran



Oleh Abduh Zulfidar Akaha*




Saat di Madinah, tepatnya di Masjid Nabawi medio Mei 2014 lalu, saya sempat ngobrol sekitar satu jam denga seorang Syiah dari Iran (dia mengaku Syiah). Dia seorang doktor dan mengajar di salah satu universitas di Teheran.



Waktu itu, di sebelah saya ada ustadz Artawijaya (penulis dan editor Pustaka Al-Kautsar, tapi beliau hanya mendengarkan, tidak ikut ngobrol yang lalu jadi debat yang dilihat oleh banyak orang di sekitar kami).. ngobrol itu sendiri berakhir karena kumandang adzan pertama Jumat, dimana dia pamit dan pergi menjauh dari kami.



Yang saya "salut" dari orang Syiah ini, dia begitu piawai dalam menjelaskan masalah-masalah yang menjadi titik perbedaan antara Ahlussunnah dan Syiah. Sampai-sampai saya berkata dalam hati; pantas kalo banyak orang "Sunni" yang terpana dengan ajaran Syiah. Mereka begitu lihai dalam bicara dan mengarang-ngarang cerita. Namun bagi saya, penjelasan orang Syiah ini tidak lebih dari apologis semata.



Dalam "ngobrol" yang tidak santai itu, ada beberapa pertanyaan saya yang dia tidak bisa jawab. Dia selalu saja mengelak dan mengalihkan pembicaraan. Beberapa pertanyaan itu:



1- Kenapa Syiah hanya menerima hadits-hadits dari ahlul bait saja, dann menolak hadits-hadits dari para sahabat?



(Hal ini saya tanyakan, karena dia mengaku mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, serta menghormati seluruh sahabat -- yang saya yakin, ini taqiyah dari dia. Apa pun jawaban darinya, tentu akan saya kejar dengan pertanyaan berikutnya. Tapi dia sangat pintar ngeles).



2- Siapa yang mengangkat 12 imam Syiah?



3- Siapa yang menjamin mereka makshum?



Sebetulnya ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Tapi si doktor Syiah itu lebih banyak bicara menjelaskan berbagai hal, daripada menjawab pertanyaan saya... sampe waktunya "habis" dan dia pamit..