InsyaAllah, Akhir Kudeta di Mesir Menemui Titik Terang






Oleh: Nandang Burhanudin



Lama menanti. Duka nestapa dan derita silih berganti. Manusia-manusia tak berdosa meregang mati. Demi tercapainya ambisi, berkuasa walau dengan nista tak terperi. Ya, itulah fragmen kudeta yang terjadi di Mesir. Perlawanan rakyat yang tak kenal kata berhenti. Kini menemui harapan pasti, bahwa junta kudeta tak akan lama lagi menghembuskan nafas bahwa lonceng kematian telah menanti.



Berawal dari Raja Salman yang bersikap "acuh tak acuh" terhadap As-Sisi. Sejak berkuasa, Raja Salman telah menerima delegasi Presiden 6 negara, minus As-Sisi. Kedekatan dengan Erdogan-Emir Tamim dari Qatar, membentuk poros baru yang membuat Emirates Arab-Kuwait berpikir ulang untuk terus menerus menjadi donatur kudeta di Mesir. Obama, Presiden AS yang tak lain komprador kudeta pun berubah haluan. Kepentingan AS di Timur Tengah lebih dikedepankan. Obama tidak ingin AS dituduh menjadi antidemokrasi, seiring dengan bukti-bukti rekaman yang bocor .. bocor ..bocor seputar konspirasi untuk menangkap, memenjarakan, dan mengkudeta Presiden Mursi.



Sewaktu di Mesir, saya beberapa kali menanyakan, mengapa Ikhwanul Muslimin lebih memilih jalan damai daripada mengangkat senjata? Jawabannya, "Inna thabi'atashshira' bainal haqqi wal bathil tahtaahu ilaa fahmin wataqwiimin shahihin. Wadh'u ash-shiraa' wa-athraafahu fii ghairi ithaarihi ash-shahih, fahuwa yaziidu baathil quwwatahu." (Tabiat pergumulan antara haq dan batil membutuhkan pemahaman dan penilaian yang tepat dan benar. Meletakkan pergumulan hak dan batil berikut anasir-anasirnya secara tidak benar, justru akan semakin memperkokoh kebatilan itu sendiri).



Semua tahu, junta kudeta di Mesir sejak awal terjadinya telah mengalami guncangan bahkan kelumpuhan. Arab Springs yang terjadi di Mesir, atau Revolusi Januari, ternyata atas seizin dan sepengetahuan Mubarak. Maka wajar, seluruh kabinet rezim Mubarak dibebaskan tanpa syarat. Namun sikap As-Sisi yang terlalu berlebihan dalam kezhaliman, dan bernafsu melenyapkan Ikhwanul Muslimin, adalah kesalahan fatal. Kini rakyat Mesir justru semakin kokoh berada di barisan Ikhwanul Muslimin, suka atau tidak suka. Sebaliknya malah sangat anti terhadap siapapun yang berbaju militer. Sungguh di sini saya mengagumi ijtihad Mursyid Ikhwanul Muslimin, Syaikh Profesor Doktor Muhammad Badie', yang secara pengorbanan (tadhiyah) tidak perlu disangsikan lagi.



Maka menurut Advokat Senior Mesir, Profesor Doktor 'Iman Abu Hasyim, akan terjadi revolusi kembali yang dilakukan elemen militer terhadap Jenderal As-Sisi. Penyebabnya sangat sederhana, bukan cinta Mesir atau cinta Ikhwan, tapi anggota militer Mesir sangat khawatir akan masa depan nyawa mereka yang pasti akan segera dihabisi, cepat atau lambat. Hal ini yang membuat rekaman pembicaraan As-Sisi saat menjadi Menhan dan Brigjen M. Ibrahim sang Mendagri haus darah, bocor..bocor..bocor! Terlebih Emirates Arab, Kuwait, Saudi Arabia, menghentikan cairan infus kepada kudeta di Mesir.



Saya justru sedikit bertanya, apa sikap ormas-orpol-atau gerakan berbau Islam yang dahulu sangat gemar memuji-muji As-Sisi dan mencaci maki Mursi berikut Ikhwanul Muslimin. Mungkin mereka berharap, jika As-Sisi dikudeta, Ikhwanul Muslimin membuka pintu maaf selebar-lebarnya. Mereka takut mati, maka menjadi penjilat adalah pilihannya. Mereka kini pun tak mampu membendung arus Kristenisasi di Mesir, yang makin hari semakin gencar menebar propaganda untuk pindah agama. Suatu hal memilukan di negeri 1001 menara. Mari terus kita doakan, Mesir kembali ke pangkuan Islam.[]