Indonesia Sudah Mati Langkah di Laut China Selatan


Penulis: Leo Kusuma

Masuknya kapal nelayan China di perairan Natuna bukanlah sebuah kebetulan. Insiden yang melibatkan China Cost Guard dan KKP plus TNI-AL itu pun bukan sebagai insiden kebetulan begitu saja.

China punya ribuan kapal nelayan seperti Kway Fey, tetapi masuknya Kway Fey bukan sebagaimana keperluan mencari ikan, melainkan sebagai operasi pengambilalihan kedaulatan wilayah.

SIAPA YANG BILANG CHINA MENGAKUI KEDAULATAN WILAYAH DI PERAIRAN NATUNA? Sampai hari ini, Indonesia masih belum meratifikasikan konflik perbatasan di perairan Natuna dgn China. Bukan hanya Indonesia, melainkan ada nama Vietnam, Malaysia, dan Thailand. Indonesia sedang berkonflik perbatasan dengan nama-nama itu. Lalu apakah maksud (misi) masuknya kapal Kway Fey ke perairan Natuna?

Ini sebenarnya modus lama. China nampaknya belajar banyak sekali dari riwayat kasus konflik perbatasan antara Indonesia dengan negara-negara tetangganya. Terutamanya dari Malaysia.

China Coast Guard sebenarnya cukuplah dengan berkomunikasi lewat radio, tidak perlu sampai MENABRAK KAPAL KKP, apalagi disebut sampai menembak ke kapal TNI-AL.

China Coast Guard di Laut China Selatan itu merupakan kamuflase dari TIM INTELIJEN ANGKATAN LAUT CHINA. Dengan menciptakan insiden yang cukup serius akan membangun opini kalau memang benar China memiliki kawasan perairan yang sekarang ini diklaim sebagai bagian dari kawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia. Mustahil sampai BERANI MAIN PUKUL KALAU BUKAN DI HALAMAN RUMAHNYA SENDIRI. Itulah opini publik yang sedang mereka bangun.

Sementara itu, dari pihak KKP maupun TNI-AL malah TIDAK MEMBALAS, akan semakin menguatkan opini publik internasional, KALAU MEMANG BENAR WILAYAH ITU SEDANG BERSENGKETA. Kalau memang benar klaim Indonesia masih DIRAGUKAN.

Itulah mengapa menjadi penjelasan mengapa para perwira tinggi di TNI pada sibuk mengumpulkan aksi-aksi di perairan Natuna, karena apa? KARENA SUDAH MATI LANGKAH ATAS KLAIM DARI CHINA.

Ditambahkan lagi, panglima tertingginya tidak bersuara sama sekali, malahan menterinya dan panglima laut mengatakan itu BUKAN KONFLIK PERBATASAN.

Lucunya, Menteri Susi yang lulusan SMP itu berkoar-koar mau membawa ke Mahkamah Internasional, SEMENTARA MENTERI YANG LAIN DAN BOSNYA MENGANGGAP SEBAGAI KONFLIK PERIKANAN.

(Bagian Pertama)