Petani Gaza dan Blokade Ekonomi Israel

(A Palestinian farmer harvests strawberries from a field in Beit Lahiya, in the northern Gaza Strip, on 10 December 2015. Mohammed Asad APA images)

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Israel memblokade jalur Gaza yang pada akhirnya menimbulkan krisis ekonomi dan kesejahteraan di wilayah tersebut. Meskipun mendapatkan kecaman dari pelbagai penjuru dunia, Israel tetap tidak bergeming. Dari hari ke hari, penyerangan terus dilakukan terhadap warga sipil Palestina yang juga menimbulkan korban tidak sedikit termasuk anak-anak.

Tidak hanya secara militer, Israel ternyata juga melemahkan jalur Gaza melalui jalur ekonomi, khususnya pada sektor pertanian. Berikut adalah kutipan penjelasan yang dilansir dari Corporate Watch.

Siapapun yang memasuki Gaza pasti melalui Erez Checkpoint di utara perbatasan Gaza-Israel. Wilayah ini dinamakan buffer zone yang dijaga ketat oleh pasukan militer Israel.

Sebuah laporan menyebutkan bahwa sejak tahun 2008, lebih dari 50 warga Palestina terbunuh pada zona ini. Pada tahun ini saja sudah empat warga Palestina yang ditembak mati oleh tentara Israel dan lebih dari 60 orang mengalami luka.

Berdasarkan laporan dari UN Monitoring Group OCHA, zona ini mencakup 17% dari luas total wilayah Gaza. Sepertiga wilayah pertanian pada zona ini tidak aman untuk ditanami oleh para petani Gaza. Dulunya wilayah tersebut dimanfaatkan untuk menanam olive dan pohon sitrus namun sekarang telah dibuldozer oleh Israel.

Corporate Watch mengatakan bahkan orang-orang Palestina sering ditembak sejauh 300 m. Petani yang mempunyai lahan tidak jauh dari perbatasan nyawanya terancam dalam bahaya jika tetap nekat bercocok tanam di lahan tersebut.

Pada sektor ekonomi, produk pertanian dari Gaza tidak satu pun diizinkan masuk ke Israel dan di pasar-pasar Tepi Barat yang merupakan konsumen produk-produk Gaza terbanyak. Saat Israel memblokade Gaza pada tahun 2007 sampai dengan November 2014, selama sebulan setidaknya terdapat 13,5 truk berangkat dari Gaza membawa hasil produksi untuk diekspor. Tetapi hanya 1% yang akhirnya diperbolehkan untuk dipasarkan.

Ironisnya pada tahun ini, sejumlah 22.000 truk dari Israel memasuki Gaza membawa produk Israel yang kualitasnya tidak sesuai standar untuk bisa diedarkan pada pasar ekspor global.

Situasi ini jelas melemahkan para petani Gaza.

Israel mengizinkan ekspor dari Gaza menuju pasar Eropa namun dengan syarat harus melalui perantara perusahaan ekspor milik Israel dan secara memprihatinkan, produk tersebut dilabeli sebagai produk dari Israel dengan harga jual jauh lebih tinggi daripada yang dibayarkan kepada produsen.

"Israel mengekspor produk Palestina dengan label Israel." Ujar Tagrid Jooma yang merupakan anggota Union of Palestinian Women Committees. Ia menambahkan, "Contohnya, mereka mengekspor mawar dari Gaza dengan harga hanya sejumlah koin logam dan menjualnya untuk mendapatkan uang yang sangat banyak."

Muhammad Zwaid yang memiliki Palestine Corps, satu-satunya perusahaan ekspor di Gaza menjelaskan kepada Corporate Watch bahwa salah satu masalah Palestina ialah tidak memiliki bar code sendiri sehingga produk yang diekspor melalui Israel dianggap sebagai produk dari Israel.

"Sebenarnya kami memiliki label sendiri." Ujar Swaid. "Tetapi Arava (salah satu perusahaan ekspor Israel), meminta kami untuk memberi label dengan ukuran yang lebih kecil dan Arava yang memiliki label yang sesuai dengan produk kami. Produk kami dibawa ke Israel oleh perusahaan tersebut dan dikemas lagi dengan kemasan yang berbeda."

Dukungan Terhadap Boikot Produk Israel

"We support the boycott even if we lose our work. We might lose our jobs but we will get back our land."

Para petani Gaza yang diwawancarai oleh Corporate Watch mendukung aksi pemboikotan terhadap produk Israel atau lebih dikenal dengan istilah BDS (Boycott, Divestment, Sanctions). Mereka menginginkan mengekspor produk mereka sendiri dan membangun kehidupan. Meskipun hal ini sempat menimbulkan kegamangan karena menyerukan boikot terhadap perusahaan Israel, termasuk Arava, berarti hal itu juga meliputi produk Palestina.

Para petani Gaza mengatakan bahwa gerakan BDS merupakan strategi jangka panjang dan lebih penting ketimbang keuntungan terbatas yang diperoleh saat ini.

"Apa yang kami butuhkan ialah orang-orang bersama kami untuk melawan penjajahan Israel." Kata salah seorang petani dari Al-Zaytoun. "Dengan mendukung BDS, berarti kalian mendukung para petani Gaza secara langsung dan tidak langsung. Ini baik bagi para penduduk Gaza."

"Para petani di Jalur Gaza sangat menghendaki hak untuk memberi label pada produk mereka sebagai produk Palestina bahkan jika harus mengekspor melalui Israel." Sebuah laporan menyebutkan.

Mohsen Abu Ramadan yang merupakan anggota jaringan Palestinian Non-Governmental Organizations Network menyarankan kepada Corporate Watch untuk menyerukan kepada seluruh perhimpunan petani di seluruh dunia agar mendukung BDS sebagai wujud solidaritas dengan warga Palestina. (portalpiyungan)

*sumber: electronicintifada.net