JOKO ANWAR dan STRAWMAN FALLACY


JOKO ANWAR DAN STRAWMAN FALLACY

Penulis: Arda Chandra

Ribut-ribut di twitter antara pak Tifatul Sembiring dengan sutradara Joko Anwar mungkin merupakan contoh bagus soal strawman fallacy, yaitu kesalahan logika dengan sengaja memelintir pendapat orang lain, memunculkan penafsiran yang lemah lalu dikatakan sebagai pendapat lawan. Pelaku strawman fallacy "menyerang apa yang dia ciptakan sendiri tersebut, seolah-olah dia telah membantah pendapat yang sebenarnya dari pihak lain".

Twitter pak Tifatul mengatakan sebagai renungan dihari Jum'at menyampaikan hadits Rasulullah yang menyebutkan pelaku perbuatan liwath/sodomi/homoseksual harus dibunuh, disampaikan agar semua pihak terutama yang beragama Islam bisa menjadikannya sebagai bahan untuk mengkoreksi diri, sehingga tidak terlanjur melanggar ajaran agama.

Joko Anwar lalu memunculkan strawman -orang-orangan sawah, yang sifatnya lemah dan gampang diserang, yaitu 'hate speech', dia menyerang kesimpulan yang dibuatnya sendiri tersebut seolah-olah sedang menyerang pendapat dari lawan. Tidak lupa sekalian melapor ke pak Jokowi dan Kapolri.

Bisa jadi ini dilakukan karena untuk menyerang hadits yang disampaikan ibarat harus melawan 'orang kuat' karena posisinya yang kokoh sebagai dalil agama.

Makanya lumrah kalau kemudian Tifatul Sembiring jadi bengong lalu berkata: "Mengutip hadits Nabi saw, hate speech ?...opo sik mas...!!"