Nyinyir Program Maghrib Mengaji, Pelaku LGBT Tuduh Ridwan Kamil Jual Agama


Wali Kota Bandung Ridwan Kamil meresmikan program 'Maghrib Mengaji' Pemerintah Kota Bandung di Masjid Al Ukhuwwah, Jalan Wastukancana, Jumat (29/4).

Dalam acara launching ini Wali Kota Bandung Ridwan Kamil secara simbolis membuka program 'Maghrib Mengaji' ini dengan membaca Alquran surat Surat Ar Rahman ditemani anak keduanya, Camillia Laetitia Azzahra. Bersama Zahra (panggilan putrinya) Emil tampak khusyuk membaca setiap ayat surat Ar Rahman yang dibaca.

"Saya membuka gerakan magrib mengaji ini dengan mengaji dengan anak perempuan. Saya sebagai simbol. Sebagai tanda saya 'nyaah' (sayang) ke anak saya, mengaji tiap maghrib," kata Emil di sela acara, dikutip merdeka.com.

Emil menyebutkan hingga kini sudah ada sekitar 2.000 relawan yang mendaftar menjadi guru mengaji. Relawan ini dikoordinir dari Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung, Unisba, serta remaja pengurus masjid. Dari 4 ribu masjid yang ada di Kota Bandung, 2 ribu masjid siap menggelar program Maghrib Mengaji.

Kang Emil berharap dengan program Magrib Mengaji ini, dapat menjadi tradisi di Kota Bandung bahwa kegiatan mengaji selepas Magrib lebih diintensifkan lagi. Hal ini kata dia untuk mengisi kegiatan terutama anak-anak dengan hal yang lebih bermanfaat.

"Maghrib Mengaji ini harus menjadi tradisi. Insyaallah masjid ramai lagi dengan mengaji dan shalat berjamaah bersama. Jadi insyaalah kota ini akan kokoh tidak hanya Infrastruktur fisik, tetapi kokoh akhlaknya. Jadi seimbamg lahir dan batin," ungkapnya.

Nyinyir Program Maghrib Mengaji

Namun, upaya dan program yang baik ini masih ada saja yang nyinyir menanggapi di sosial media. Bahkan ada seorang pelaku LGBT yang menuduh Ridwan Kamil mempolitisasi agama.

"Kang @ridwankamil kang org cerdas, progresif, sudahlh fokus kerja utk kesejahteraan rakyat. Gak usah ikut2 ky pjabat korup yg suka jual agama," kata ‏Hartoyo melalui akun Twitternya @HartoyoMdn, Sabtu (30/4).


Hartoyo beberapa waktu lalu sempat membuat heboh saat tampil 'bak ustadz' di sebuah televisi swasta sebagai nara sumber soal LGBT. Hartoyo sendiri menyebut dirinya pelaku LGBT (homo).

Menanggapi tuduhan itu Ridwan Kamil membalas, "urusan negara itu multi dimensi. selama masuk ke ranah/aspirasi publik, semua diurus. hanya porsinya proporsional," jawab Emil melalui akun Twitternya @ridwankamil.

Hartoyo yang berasal dari Medan ini masih ngeles dan melanjutkan, "skalian saya ajak umat GBKP bahas soal gereja mreka. Sya tunggu undangan ngopinya dri pak walkot @ridwankamil."

Dibalas Kang Emil, "urusan gereja sdh beres. sila tlp pendetanya. urusan ngopi belum perlu. khawatir ditaksir."

Hahaha... betul Kang Emil. Bahaya kalau ditaksir si Hartoyo.