SATU LANGKAH: "Kami jadi tambah erat karena ditindas Gubernur Ahok"


SATU LANGKAH

by Zeng Wei Jian
(Warga Tionghoa)

Kemarin, 24 April 2016, Pa Jaya Suprana mengirim sms. Dia minta hari ini aku datang ke Masjid Keramat Luar Batang, jam 8 pagi. Dia bilang sudah lapor ke Panglima TNI. Menurutnya, Panglima TNI langsung balas sms. Begini dia tulis:

"Luar biasa. Salut. Smoga kegiatan tersebut dapat menumbuhkan kembali budaya gotong royong sebagai ciri dan sekaligus kekuatang bangsa bisa kembali tumbuh melalui kegiatan ini. GBU".

Matahari mulai panas saat aku tiba di pekarangan masjid Luar Batang. Sepi. Gojek-driver aku minta sholat dhuha di sana. Aku bilang masjid ini penuh karomah, lagi bersedih karena banyak pengungsi korban gusuran gubernur. Sepanjang jalan, tadi kami ngobrol soal Gubernur Ahok. Dia mengetahui bahwa Ahok sedang menghadapi dua skandal korupsi dan "tukang gusur".

Aku disambut Babinsa setempat, Sersan Yudi. Dia bilang dapet perintah dari panglima. Komandan Kodim 0502 sudah ada di Koramil.

Rupanya, Jenderal Gatot Nurmantyo punya relasi sangat akrab dengan Pa Jaya Suprana. Dia benar-benar menginstruksikan jajaran Komando Distrik Militer 0502 turun ke lapangan untuk menjaga keamanan sekitar wilayah masjid Luar Batang saat Pa Jaya Suprana dan ex komisioner Komnas HAM sowan.

Tidak lama kemudian, belasan tentara muncul dari pintu belakang masjid. Dandim 0502, Letnan Kolonel Soleh datang. Imam Masjid, Haji Hasyim menyambut. Kami bertiga diskusi, dijaga beberapa orang prajurit. Aku bilang, "Saya mengerti posisi tentara. Saya puji karena kemarin prajurit TNI tidak memukuli warga. Tetapi tetap saja, penggunaan tentara dalam proyek penggusuran bukan sesuatu yang tepat."

Mata Dandim Soleh agak murung. Aku tau dia merasa serba salah. Dia cerita bahwa jajarannya memberi bantuan pasca penggusuran. Dia minta tolong agar masyarakat tidak menyudutkan TNI. Aku bilang, masyarakat tetap cinta TNI. Rasa hormat ini mesti dijaga. Jaga citra TNI. Jangan sampe mau disuruh gebuk rakyat sendiri. Hanya saja, saat ini kita lagi punya gubernur bengis. Kita bertiga tertawa. Pak Soleh bilang bahwa anak-buahnya sedang menjemput Pa Jaya.

Kami bergerak saat ada laporan Pa Jaya sudah tiba. Kami menuju halaman depan. Ada HS Dillon, ex Komisioner Komnas HAM. Bang Lieus mengirim gambar via WA. Rupanya ia dan Pa Jaya Suprana sudah di dalam kantor pengurus masjid. Kami dan jajaran Kodim dikecoh. Aku mengajak Pak Dillon menyusul ke ruang dalam.

Pa Jaya Suprana, HS Dillon, Lieus Sungkarisma diterima oleh Kordinator Luar Batang dan dua orang ibu perwakilan korban penggusuran. Salah satunya bernama Marlina.

Mereka mengutuk Gubernur Ahok. "Kami diperlakukan seperti sampah, pak," ujar Marlina.

Daeng Mansur menyatakan bahwa Gubernur hendak membenturkan warga vs warga (etnik tionghoa), warga vs TNI/Polri dan warga vs Satpol PP. "Ini tidak benar pak. Dia memecah belah persatuan," kata Daeng.

Imam Masjid, H. Hasyim menimpali, "Kita ini rukun sesama warga. Gara-gara Ahok, etnis Tionghoa bisa dianggep macem-macem. Dulu nih, temen-temen dari Budha Tzu Chi yang cat tembok masjid ini. Mereka kasi sumbangan."

Menurut Daeng Mansur, sampai saat ini ada 2x percobaan membakar perkampungan Luar Batang. Pelaku tidak diketahui.

Sebelum pertemuan ditutup, HS Dillon berjanji meneruskan keluhan warga ini ke Komnas HAM. Pa Jaya Suprana bilang akan menghubungi Presiden Jokowi dan meneruskan keluhan warga Pasar Ikan soal kebijakan Gubernur DKI. "Presiden harus tau hal ini," imbuh Pa Jaya.

Kami keluar ruangan. Satu truk minuman air mineral sumbangan Jamu Jago sedang di-'unloaded'.

Belasan nelayan korban gusuran berebut menyalami Pa Jaya Suprana. Mereka berkeluh kesah. Salah satunya Pak Yuskardi, warga RT 12. Dia cerita, putrinya Cindy Cahyati (8 tahun) sempat ditendang oleh Satpol PP sampai jatuh tersungkur ke tanah saat penggusuran dilakukan. Si kecil Cahyati harus dirawat akibat sepakan itu.

Apakah Gubernur Ahok tau hal ini? Mengapa Komnas Anak tidak membela?

Sebelum meninggalkan masjid, beberapa satgas FPI "memaksa" Pa Jaya untuk menginspeksi aula serba guna-cum-markas posko kemanusiaan FPI. Rupanya ada dua orang satgas FPI saling kenal dengan Pa Jaya Suprana.

Kami jadi tambah erat karena ditindas Gubernur Ahok.

___
Keterangan Foto:
Pa Jaya Suprana (etnis Tionghoa), HS Dillon, Lieus Sungkarisma (etnis Tionhoa), Dandim 0502 Letnan Kolonel Soleh bertemu dengan korban gusuran Kampung Aquarium di Mesjid Luar Batang. Sambil menangis, Warga cerita bagaimana prajurit Gubernur Ahok menggusur mereka

*Sumber: fb